Istilah FOMO ini sering saya dengar di media sosial, melanjutkan dulu pernah bahas apa itu nyinyir? Sekarang saya pengen mengerti apa itu FOMO atau kepanjangan dari Fear Of Missing Out yang dalam pengertian biasanya itu adalah takut ketinggalan. FOMO ini adalah perasaan cemas, khawatir yang terjadi karena takut tertinggal dari orang lain atau kehilangan sesuatu yang menarik atau menyenangkan. Hal ini mengacu pada kecenderungan seseorang untuk cemas, gelisah karena ketinggalan pengalaman, peristiwa atau aktivitas yang dilakukan oleh orang lain. Fenomena ini lebih terlihat sekarang ini disaat teknologi sudah makin canggih, dimana media sosial memberikan informasi dengan cepat dan kemudahan akses untuk mendapatkan informasi akan terjadinya suatu peristiwa.
Asal Mula FOMO
Konsep FOMO mulai mendapatkan perhatian pada awal tahun 2000-an, bersamaan dengan meningkatnya penggunaan media sosial. Sejak saat itu, orang-orang semakin terpapar dengan informasi tentang apa yang dilakukan oleh orang lain, baik itu acara sosial, perjalanan, pencapaian, atau momen-momen berharga dalam kehidupan. Hal ini seringkali menimbulkan perasaan bahwa kehidupan mereka sendiri kurang memuaskan atau kurang menarik.
FOMO dapat terjadi pada siapa saja, dari segala usia dan latar belakang. Namun, FOMO lebih sering terjadi pada anak muda dan orang-orang yang aktif di media sosial.
Penyebab FOMO
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan FOMO, antara lain:
1. Media sosial. Media sosial memungkinkan kita untuk melihat kehidupan orang lain secara real time dan membandingkannya dengan kehidupan kita sendiri. Hal ini dapat memicu perasaan FOMO, terutama jika kita merasa bahwa kehidupan orang lain lebih menyenangkan atau lebih sukses dari kehidupan kita. Seseorang yang merasa perlu untuk terus memeriksa media sosial untuk mengetahui apa yang dilakukan orang lain dan takut melewatkan sesuatu yang penting.
2. Perbandingan sosial. Perbandingan sosial adalah suatu proses untuk membandingkan antara diri sendiri dengan yang terjadi pada orang lain. Perbandingan sosial dapat menjadi positif jika kita termotivasi untuk meningkatkan diri sendiri. Namun, perbandingan sosial juga dapat menjadi negatif jika kita merasa bahwa kita tidak sebaik orang lain.
3. Kecemasan dan Ketidakpuasan. Ketidakamanan adalah perasaan tidak percaya diri atau tidak puas dengan diri sendiri. Ketidakamanan dapat memicu perasaan FOMO, karena kita takut bahwa kita akan tertinggal dari orang lain. Perasaan ini sama halnya dengan cemas dengan kehidupan sendiri, dan dibandingkand engan kehidupan orang lain yang terlihat sempurna di media sosial.
4. Kesulitan dalam Mengambil Keputusan
Kecenderungan untuk merasa sulit mengambil keputusan karena khawatir bahwa pilihan yang diambil akan membuat mereka kehilangan pengalaman yang lebih baik.
5. Kecemasan dan Ketidakpuasan
Perasaan cemas atau tidak puas dengan kehidupan mereka sendiri, terutama ketika dibandingkan dengan kehidupan orang lain yang terlihat begitu sempurna di media sosial.
Dampak FOMO
FOMO dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan kehidupan sosial seseorang. Beberapa dampak FOMO antara lain:
1. Cemas. FOMO dapat menyebabkan perasaan cemas, khawatir, dan gelisah.
2. Depresi. FOMO dapat meningkatkan risiko depresi, terutama pada orang-orang yang sudah memiliki faktor risiko depresi.
3. Kecanduan media sosial. FOMO dapat mendorong seseorang untuk menggunakan media sosial secara berlebihan, sehingga dapat menyebabkan kecanduan media sosial.
4. Masalah hubungan sosial. FOMO dapat menyebabkan seseorang lebih fokus pada media sosial daripada kehidupan nyata, sehingga dapat mengganggu hubungan sosialnya.
Cara mengatasi FOMO
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi FOMO, antara lain:
1. Batasi penggunaan media sosial. Batasi waktu penggunaan media sosial, dan fokuslah pada kehidupan nyata. Mengatur waktu yang dihabiskan untuk menggunakan media sosial agar tidak terlalu terpapar dengan informasi yang memicu FOMO.
2. Berfokus pada diri sendiri. Berfokuslah pada hal-hal yang positif dalam diri sendiri, dan jangan terlalu membandingkan diri dengan orang lain.
3. Luangkan waktu untuk diri sendiri. Luangkan waktu untuk melakukan hal-hal yang Anda sukai, dan hindari terlalu sering memikirkan orang lain.
4. Jika Anda merasa bahwa FOMO Anda sudah mengganggu kehidupan Anda, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan psikolog atau terapis.
5. Berlatih Bersyukur: Menghargai apa yang dimiliki dan berfokus pada kebahagiaan internal daripada membandingkan diri dengan orang lain.
6. Menentukan Prioritas: Mengidentifikasi apa yang benar-benar penting dan relevan bagi diri sendiri, bukan hanya apa yang tampak penting bagi orang lain.
Kesimpulan
FOMO adalah fenomena yang dapat memengaruhi kesejahteraan mental seseorang karena tekanan untuk tidak ketinggalan informasi atau pengalaman yang dirasakan oleh orang lain. Penting untuk mengenali dan mengatasi FOMO agar dapat menjaga keseimbangan dan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari.
Sering denger istilah fomo ini belakangan, tapi enggak tau artinya apa hehehe.Agak-agak mirip keq gangguan jiwa / mental yah..syukur saya nggak keranjingan liat medsos, yang nyata"aja lah
BalasHapusiya saya juga termasuk dah salah satunya
HapusWalah..piye toh...
HapusRalat..maksud masnya yg nyata"aja pan..ga keranjingan..saya koq mikirnya beda wkwkk
Hapusterkena fomo tapi enggak parah hehe
Hapusmasih bisa dikendalikan lah
Kalo inget kata fomo ingetnya indra kenz
BalasHapusnah kalau untuk yang ini saya yang enggak tau hehe
Hapusterlalu banyak short form muncul disebabkan social media. kadang saya ambil masa untuk faham. namun untuk guna selalu mungkin tidak rasanya...
BalasHapusFOMO mungjin terjadi kepada mereja yang terlalu nak mengejar kesempurnaan. apabila tidak dapat yang dihajati, maka dia akan blame diri sendiri. pada mulanya ia mungkin tidak ketara. tapi bila terlalu kerap berlaku, ia bagaikan satu penyakit yang perlu diubati
nah
Hapusorang kadang kalau enggak tau info terbaru
kayak ada rasa yang kurang
makanya selalu kepo
Ini mungkin salah satu masalah kesehatan mental ya, merasa ingin perfeksionis. Padahal mereka yang terlihat hebat di medsos pun sebetulnya memiliki kekurangan, hanya tidak diumbar
BalasHapusbenar sekali mas, belum tentu yang pamer itu aslinya bahagia
Hapussuwer mas, aku baru denger tentang FOMO ini, tp ini berbahayakah? ini lebih ke mental ya?
BalasHapusiya lebih ke gangguan mental sih
Hapusmengenai FOMO ini, kebetulan saya mendapat cerita kalau hampir sebagian pasien psikiatri sekarang depresi karena fenomena ini. Dan memang isinya anak2 muda
BalasHapusnah benar sekali
Hapusgen z banyaknya sih yang kena
Sejak nikah aku malah udah ga pernah main media sosial lagi, cuma kusisain 1 tok yaitu blogku yang kuliner itu aja. Itu juga kubikin buat hobi atau lucu lucuan aja, buat diri ndiri hehe. Soalnya udah sibuk ngurus keluarga dan ga tertarik ngeliat kehidupan orang lain. Malah aku ngerasa oke-oke aja kalau ga terlalu banyak tahu tentang informasi yang jujurnya aku juga ga paham dan bukan ranahku. Jujur aku bukan tipikal orang yang kepoan, atau penasaran dengan hal hal tren atau viral. Malah kadang aku ketinggalan info sendiri dibanding temen2 yang lain hehe. Tapi ga pa pa, malah yang kek gitu lebih ngebikin hidupku jauh lebih kalem (soalnya ga tahu hal yang emang bukan urusanku). Bukan karena ga pedulian. Tapi karena udah sibuk aja dengan kehidupan diri sendiri jadi malas ngurusin hal yang bukan urusanku. Kalau sekedar silaturahmi main ke blog temen itupun karena blogwalking balik aja, hehe...berteman juga yang wajar wajar aja.
BalasHapusnah itu mbul hebatnya
Hapuskalau saya masih punya semua medsos tapi mulai ngebatasin sih
Aku maen socmed ga sekenceng orang2 lho hihihi. Seperlunya aja biasanya selain memang lagi pengen bikin status atau upload foto2 di IG dll, karena kerjaan juga. Kita harus memberikan jeda supaya kesehatan fisik dan mental terjaga.
BalasHapusiya harus seimbang antara real life sama media sosial sih
HapusTerima kasih bahasannya atas FOMO ini, Mas.
BalasHapusBahasan detil ini cukup memberi saya pengertian FOMO dan akibatnya pada kesehatan mental seseorang.
Salam,
iya mas, moga bisa bermanfaat
Hapusjujur gw baru tau istilah fomo dari sini, makasih atas infonya :D.... cukup bahaya efek negatif dari fomo, karna bisa membuat depresi pada diri seseorang, padahal membandingkan diri sendiri dengan orang lain belum tentu baik aslinya :D
BalasHapusnah itu
Hapussetidaknya bisa membatasi kita sih agar tidak fomo
Kalau nggak salah, saya pertama kali dengar istilah ini sekitar tahun 2014. Tapi jadi sering mendiskusikannya sekitar tahun 2015, dengan seorang teman yang kebetulan sedang studi master keilmuan komunikasi dan media. Uraian di atas sebelas-dua belas dengan yang sering kami diskusikan. :)
BalasHapusMemang dahsyat, sih, bagaimana perkembangan teknologi komunikasi bisa memberi pengaruh pada masyarakat. Dari yang sebelumnya kita ignoran dengan hal-hal di luar komunitas terdekat, kita jadi tahu apa yang terjadi di berbagai pelosok bumi. Bahkan sampai ke hal-hal yang tak penting atau bahkan negatif. Gegar jadinya. Tapi kalau orang-orangnya sudah punya dasar, misalnya pendidikannya sudah cukup, saya kira FOMO takkan menjadi masalah besar. Cuma, ya, kenyataannya lain. :D
perkembangan teknologi sekarang udah sangat pesat dan kita harus bisa mengatus intensitasnya sih
Hapuslebih bagusnya sih kita bergaulnya secara real life aja
kadang saya suka FOMO, tapi tergantung kondisi hehehe masih bisa tahan
BalasHapusiya jangan parah banget fomonya kak hehe
HapusSudah lama mendengar tentang fomo ini. Fomo selalu diindentikan dengan hal-hal negatif. Selalu mengikuti tren yang selalu ada di media sosial.
BalasHapusKalau aku sendiri sih ga pernah ikut tren yang ada di sosial media. Bagiku sossmed untuk cari informasi dan hiburan. Jadi tren-tren yang ada sering aku hindari.
Agar terhindar dari fomo sebaiknya kita meningkatkan kemampuan berpikir kita. Selalu berpikiran tidak perlu mengikuti sebuah tren yang ada.
iya kadang malah banyak yang menganggap kenyataan itu di sosial media
Hapusitu yang repotnya
Es muy interesante. Te mando un beso.
BalasHapusGracias por visitar y comentar mi blog.
HapusDas klingt doch richtig klasse, kannte ich so noch nicht. LG Romy
BalasHapusWo ich lebe, haben viele Menschen diesen Vorfall erlebt
Hapusmenurutku culture FOMO ini kebanyakan pelakunya oleh orang2 di kota. liat aja konser coldplay kemaren banyak yg cuma ikut2an
BalasHapuskalau konser kemaren sih iya
Hapushahahah
banyak yang kena tipu juga ya
tiket resmi malah banyak yang dijualin lagi
Astaga udah ada sejak tahun 2000-an tapi aku baru tahu di Oktober 2022 lalu pas ikutan acara di Jakarta kwkw katro syeqale sayahh ...
BalasHapusdmpaknya mengerikan, tapi tergantung ke orangnya juga sih ya. Kalau emang dlm kshariannya gak mau ketinggalan dan gak mau kalah dri orang lain, bisa ajkebiasaan itu bkin dia kena dampak negatif Fomo ini. gimana pun kebiasaan shari" kan emang berpengaruh dalam pikiran. kalau sampe gak terkontrol ya bisa kena dmpak negatif Fomo
iya akhir2 ini lagi musim fomo ini ya
Hapusdampat negatifnya yang memang ngeri sih
Pelaku Fomo mungkin aja gak nyaadar atas tindakannya yg ngarah ke Fomo ini, tapi cpat atau lambat bsa ngerasain dampaknya. Zaman skrang mah ya dunia medsos dan virtual serasa lebih nyata sampe ikutan ngelakuin yg menurut mereka bagus pdhal kdang itu malah nyessatin
HapusFOMO ni ada kebaikannya... tapi ada juga keburukannya...
BalasHapusada kebaikan dan keburukan
Hapustinggal kita menyikapinya
Pernah denger kata fomo tapi kirain typo dari promo. Eh ternyata singkatan dari Fear of missing out atau takut ketinggalan.
BalasHapusAku juga kadang fomo sih atau takut ketinggalan, misalnya kalo mau berangkat kerja takut angkotnya sudah lewat, jadi dampaknya gaji hari ini dipotong karena ngga kerja.😂
ehm malah ketinggalan angkot,
Hapusbtw angkot sekarang ada yang bayarnya pakai qris jg ya, makin canggih
Kalo sampe ngerasa depresi, stress, hanya karena ketinggalan sesuatu yg trend, rasanya kok yaaa sayang banget yaa 😅. Segitu kuatnya memang pengaruh medsos utk Orang2 yg ga mau ketinggalan trend
BalasHapusAku pribadi malah males kalo ikutan trend mas 🤣. Justru maunya tampil beda. Orang2 lagi suka resto A yg viral banget, aku cari hidden cafe yg ga dikenal orang.
Pada musim liburan ke jepang, aku mendingan cari negara yg ga familiar utk turis kayak Belarus 😁. Jadi kan bisa cerita sesuatu yg beda.
Makanya kalo sampe ada yg stress ketinggalan hype, kasian aja, kesannya harus jadi orang yg nomor 1. Mendingan dia cari cara utk bisa jadi pelopor awal daripada follower awal kan 🤭
ehm mbak fanny tipenya yang beda dari yang lain
Hapuskalau sampai stres malah kesian kita malah dapat masalah mental
karna itu saya kurangkan social media... saya lebih kepada membaca blog sahaja atau membaca buku
BalasHapussesekali aja nonton tiktok...social media ada masa tidak sihat juga
emang harus dibatasi sih
Hapussaya juga pengennya ngeblog aja
cuman tetap saja tidak bisa konsisten
Ok dibaca habis pengertian FOMO dan juga ini pertama kali didengari perkataan nya.. Media sosial ini kadang kala menjadi ketagihan itu yg menjadi FOMO..
BalasHapusiya malah berdampak buruk ke kita
HapusSudah follow blog ini menjadi follower ke 156.. Pertama kali berkunjung lupa mau di follow blog kamu.. :D
BalasHapussy sudah follow, follower ke 626
HapusHehehe, jujur nih ya, sejak adanya medsos, dan saya harus selalu aktif di medsos biar kata buat branding doang, secara nggak langsung saya jadi ikutan FOMO.
BalasHapusCuman beruntungnya saya bisa sekaligus menggunakan fomo untuk modal ngeblog.
Biasanya, kalau saya ikutan hal yang baru, tak lupa buat jadi tulisan di blog, dan Alhamdulillah bisa mendulang trafik :D
Saya pikir, beberapa influencer juga mendapatkan uang dari FOMO tersebut, sayangnya dampak negatifnya yang lainnya bisa ikutan fomo tanpa alasan jelas
wah merubah fomo jadi trafik
Hapusmantap jjuga mbak