8 Juni 2021

Pengalaman Rapid Test Antigen

Nyesek waktu bayar ini.

Di masa pandemi ini ada satu kewajiban yang kita lakukan sebelum menggunakan jasa transportasi masal yaitu adalah kita harus mengantongi hasil rapid test antigen ataupun hasil genose. Dulu di awal pandemi itu kita diwajibkan rapid test antibodi, kalau antibodi ini yang di periksa adalah darah yang diambil sebagai sampelnya. Sedangkan sekarang ini kalau antigen sampelnya diambil dari semacam stick yang berupa cotton bud yang dimasukkan ke dalam hidung untuk mengambil sampel cairan di pangkal hidung. Metodenya mirip dengan PCR (Polymerase Chain Reaction) namun bisa dibilang sebagai alternatif lah, soalnya hasil nya relatif lebih cepat yaitu bisa ditunggu selama 30 menitan. Kalau PCR kan membutuhkan waktu sekitar minim 1 hari.

Saya dari awal mulai perubahan dari rapid test antibodi ke antigen itu udah was - was aja, karena kalau diambil sampel darah dari jari masih aman lah ya enggak serem. Tapi kalau untuk antigen itu kok lebih seram ngambil sampelnya, yaitu hidung kok dicolok cotton bud panjang, apa rasanya dah itu. Di video yang beredar tentang rapid test antibodi itu ada yang setelah di colok cotton bud itu ada yang langsung bersin - bersin dan ada yang juga langsung nangis. Ngeri lah saya, dan mewanti - wanti diri saya sendiri yaitu kalau ada alternatif lain asal jangan antigen atau PCR lah. Kalau PCR sih enggak mungkin karena mahal biayanya, kalau antigen ini untuk tes di Stasiun sebagai syarat perjalanan itu dipatok sekitar Rp. 105.000. Untungnya juga enggak lama dari diadakannya rapid test antigen ini ada alternatif lain yang lebih nyaman yaitu test genose. Happy lah saya karena genose ini enteng lah, cuman niup plastik trus plastiknya dimasukkan ke alat genose dan keluar cetakan hasil dari udara di plastik itu. 

Mungkin karena dari awal sudah ogah dengan rapid test antigen ini saya kena apesnya juga, yaitu kejadian kemaren waktu pulang ke rumah. Rumah saya aslinya di Bondowoso, dan untuk saat ini sarana transportasi yang enak yaitu naik kereta turun di Jember dari Surabaya Gubeng, setelah itu oper naik angkot dan lanjut naik bus dan sampai di Bondowoso. Untuk perjalanan awalnya aman karena sebelum perjalanan kita harus minim 1 x 24 jam sebelum keberangkatan itu harus genose. Enteng lah kalau berangkat pagi jam setengah enam bisa genose sore hari di hari sebelumnya. Yang jadi kendala adalah di saat pulang ke Surabayanya.

Saya emang bener - bener tidak memikirkan untuk genose nya di Stasiun Jember itu jadwal operasinya jam berapa, saya awalnya mengira jadwal operasi test genose ini sama kayak di Surabaya Gubeng dan Surabaya Pasar Turi yaitu mulai jam 07.00 WIB sampai 19.00 WIB. Sudahlah saya santai waktu pulang ke Surabayanya, kereta saya berangkat dari Jember itu jam setengah 6 sore. Sayapun menyiapkan pulang dari rumah Bondowoso itu jam 14.00 WIB, perhitungan saya nanti jam 15.00 WIB sampailah saya di Stasiun Jember. Dalam perjalanan di bus saya isenglah nyari informasi tentang jadwal genose di Stasiun Jember, nah kok di Twitter tulisannya dari jam 06.00 WIB sampai 15.00 WIB, keringet dinginlah saya.

Saya jam 15.00 WIB masih di perjalanan ke stasiun, karena ini juga naek transportasi umum enggak mungkinlah saya minta prioritas. Panik dong saya,tapi saya berusaha menenangkan hati saya yang kalut. Saya tenangin diri saya dan berpikir mungkin ada pertambahan waktu kalau ada yang mau genose mungkin masih bisa diterima di Stasiun. Harga satu kali test genose di stasiun adalah Rp. 30.000 dan asal tau saja harga tiket kereta api saya dari Jember ke Surabaya Gubeng adalah RP. 29.000 alias mahalan genose nya malah. Tapi berhubung masa pandemi dan jadwal bus ke rumah saya enggak beraturan makanya lebih enak naek kereta yang jadwalnya pasti.

Dan benar saja saya baru lelarian sampai Stasiun Jember itu pukul 15.30 WIB dan dengan berat hati ternyata tempat genose nya juga udah bersih dari orang dan alat - alat genosenya. Bersih banget dan sepi banget, lelarian lah saya nanyain ke Security yang stand by di Stasiun. Dan benar saja memang sudah tutup untuk genose nya, dan disarankan kalau mau genose itu bisa di klinik cuman agak jauh dari stasiun. Disarankan sih Rapid Test Antigen di klinik di dekat Stasiun, keringet dinginpun enggak berhenti di sekujur badan saya, yaudahlah kepaksa ini mah. Pikir saya kalau saya ganti transportasi ke Bus lewat Jember biaya yang dibutuhkan sampai ke tempat parkir motor saya juga bakal sama dengan biaya Rapid Test Antigen di klinik ini. Cuman saya belum tau berapa harga pastinya, lari dong saya ke Jember Klinik yang dimaksud. Panik dan mulai g fokus, soalnya ngelihat jam juga waktu juga terus berjalan, larilah saya ke klinik dan langsung tanya ke bagian admin nya biayanya berapa. Dan benar saja, harganya sekali tes itu Rp. 150.000, lima kali harga tiket saya. 

Dalam hati pun saya menyesal, tau gitu pagi tadi saya motoran ke Jember untuk genose abis itu sore - sore berangkat ke Jember sante karena sudah genose. Tapi karena udah kejadian kayak gini, akhirnya saya memutuskan tetap melakukan rapid test antigen. Hyuh pengalaman pertama untuk mengikuti tes yang saya takuti ini. Cuman mungkin karena kepepet saya enggak banyak mikir, sayapun daftar untuk rapid test antigen. Saya urutan kedua waktu itu untuk tesnya, ternyata juga ada satu orang lagi yang sama kayak saya yaitu juga sama - sama kelewatan genose yang akhirnya kepaksa pakai antigen.

Sayapun antri untuk pengambilan sampel di bagian lab nya, jadi saya disuruh duduk dan disuruh menengadah ke atas kepala saya. Setelah itu buka mulut dan disarankan untuk nafas lewat mulut. Setelah itu cotton bud nya dimasukin lewat lubang idung sebelah kiri, saat cotton bud nya masuk saya disuru bernapas lewat mulut. Setelah itu cotton bud nya ditarik dan disuruh nunggu di depan.

Hal pertama yang saya rasakan adalah lobang idung saya berasa gede banget karena abis dimasukin cotton bud, tapi untung aja waktu dimasukin cotton bud nya itu enggak diputer - puter seperti di video yang pernah saya tonton. Dan saya juga enggak kepengen muntah sih, cuman ya enggak enak aja. Lebih enak genose dah.

Hasil dari rapid test antigen ini jadi setelah kurang lebih 20 menit dari pengambilan sampel. Alhamdulillah hasilnya negatif, setelah nerima hasil sayapun kembali ke Stasiun dengan agak lega. Udah abis itu tinggal boarding dan nunggu kereta untuk balik Surabaya.

Dari cerita saya ini alangkah lebih baik kita harus prepare untuk berangkat dan pulang kalau menggunakan transportasi umum seperti saya, dan jadwal genose udah harus tau jadwalnya karena tiap stasiun jadwalnya beda meski harga tes nya itu sama. Dan satu harapan saya semoga pandemi segera berakhir, amin.

source : https://primayahospital.com/covid-19/swab-antigen-bekas/

Share this

Halo, Saya Rezky Pratama, seorang blog yang masih belajar tentang blog. Hobi menulis random, jadi maklum kalau isinya macem - macem. Begitu juga dengan hobi nonton, sekarang hobi nonton meski film yang ditonton itu diselesein sampai tamat tapi ya kadang juga enggak paham tentang jalan ceritanya, emang bener blogger random!

8 Responses to "Pengalaman Rapid Test Antigen"

  1. Jangankan menjalani. Melihat hidung dikorek saja saya sudah ngeri. He he .... Selamat malam, Mas Rezky.

    BalasHapus
  2. Saya pernah tes antigen karena di kantor, kalau ada pegawai yang kena covid, pegawai lainnya harus tes antigen. Tadinya sempat mikir juga, kayak apa rasanya hidung dicolok. Ternyata biasa aja. Untungnya selama ini hasilnya negatif.

    BalasHapus
  3. Aku sampai detik ini belum dan semoga tidak pernah mengalami rapid test antigen. Ngeliatnya aja udah geli-geli sedap. Bersyukur selama kerja nggak dapet bagian yang harus pake rapid test antigen.

    Anyway, semoga hidungnya sekarang udah baik-baik aja ya, Kak.

    BalasHapus
  4. bener mas, aku juga sukanya test genose karena cuma niup plastik doank. tapi harus memperhatikan waktu pemberangkatan juga biar dapat waktu test pake genose ya.

    semoga lekas sembuh ya hidungnya..

    BalasHapus
  5. haduh, udh ngebayangin gmn idung dikorek2, soalnya aku blm pernah... sakit gak sih mas?

    BalasHapus
  6. Wheww semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat walafiat ya Mas

    Gakuat deh kalo sering-sering test

    BalasHapus
  7. Oh, it is painful says my friends. We have to do this test here too if we are in contact with Covid-10 positive cases. Lebih selamat duduk di rumah sekarang.

    BalasHapus
  8. Masalahnya masa berlaku sertifikat ini sangat pendek. Ini membuat menyulitkan bagi yang sering tugas ke luar kota. Apa harus dites terus? Padahal kita belum tahu kapan pandemi berakhir.

    BalasHapus

Kolom Untuk Mengisi Komentar.